PEJUANG TIONGHOA : ABAD PERANG DINGIN

Kendati hanya tinggal di Indonesia sampai tahun 1967, nama Ang Yan Goan tidak bisa dihilangkan dari sejarah pers di Indonesia. Ia turut membesarkan ”Sin Po”, koran berbahasa Tionghoa, yang kemudian namanya diubah Presiden Soekarno menjadi ”Warta Bhakti” pada tahun 1960-an.
 
Perjalanan hidup Ang Yan Goan (AYG) berimpitan dengan sejarah etnis Tionghoa dan dinamika perang dingin. Awal abad ke-20, pemerintah kolonial menerapkan politik etis terhadap penduduk Hindia Belanda, antara lain menyangkut sektor pendidikan. Namun, fasilitas ini tidak diberikan kepada golongan Tionghoa sehingga mereka terdorong membuat sekolah sendiri, Tiong Hoa Hwee Kuan (THHK).
 
Tentu, alasan pendirian sarana pendidikan itu juga didukung pertimbangan lain, di antaranya sentimen pan-nasionalisme Tionghoa. Pendirian THHK diikuti pembukaan sekolah serupa, yakni Jamiatul Khair oleh keturunan Arab. Dalam suasana demikian, Wahidin Sudirohusodo tergerak hatinya mengembangkan pendidikan bagi orang-orang Jawa yang kemudian bermuara pada pembentukan Budi Utomo. Jadi, THHK dan Jamiatul Khair sebetulnya memicu atau menjadi mitra tanding bagi kemunculan etno-nasionalisme yang dipelopori Budi Utomo.
 
AYG yang lahir di Bandung tahun 1894 menempuh pendidikan dasar di THHK. Setelah tahun 1909, ia dikirim ke sekolah Ji Nan (khusus bagi orang Tionghoa perantauan) di Nanjing. Namun, tahun 1911 meletus revolusi Tiongkok sehingga ia terpaksa kembali ke Jawa. Ia kemudian aktif mengelola sekolah THHK di Bogor.
 
Mengelola ”Sin Po”
Betapa panjang pengalaman yang ia lalui. Tahun 1922, AYG menjadi redaktur koran Sin Po. Selama empat dekade ia mengelola surat kabar tersebut sampai berganti nama menjadi Warta Bhakti pada tahun 1960-an dan diberedel pada awal Orde Baru.
 
Menurut AYG, Sin Po dari awal mempunyai misi mengembangkan nasionalisme Tiongkok sehingga mereka akrab dengan Konsulat Jenderal Tiongkok di Batavia. Tahun 1936, misalnya, ia diajak Konsul Jenderal Tiongkok untuk memberikan medali kehormatan bagi Susuhunan Surakarta dan Sri Sultan di Yogyakarta. Ketika tentara Jepang akan mendarat di Jawa, di Yogyakarta ada segerombolan perusuh ingin menjarah toko-toko warga Tionghoa. Namun, Sri Sultan memerintahkan pengawal keraton ke luar istana mengamankan kota sehingga warga Tionghoa terhindar dari kerusuhan. Koran ini juga memelopori pengumpulan dana bagi korban agresi militer Jepang ke Tiongkok tahun 1937.
 
Banyak hal yang telah dilakukan Sin Po. Koran ini juga memelopori penggunaan istilah ”Indonesia” untuk menggantikan ”Hindia Belanda” dan ”warga Indonesia” atau ”bangsa Indonesia” menggantikan ”inlander” pada tahun 1920-an. Selain itu, surat kabar ini pula yang pertama kali memuat syair lagu ”Indonesia Raya” yang ditulis korespondennya, WR Supratman.
 
Dalam bukunya ini disebutkan, pemuatan itu tahun 1930-an, tetapi pada arsip yang diperlihatkan Djoko Utomo, Kepala ANRI, anehnya tercantum tanggal 27 Oktober 1928. Kalau ini benar, berarti sebelum diperdengarkan secara instrumentalia pada saat diikrarkan Sumpah Pemuda, teksnya sudah ”dibocorkan” WR Supratman pada koran Sin Po.
 
Sin Po juga memuat berita kesehatan, yang di antaranya ditulis dr Kwa Tjoan Sioe. Tahun 1924 Kwa Tjoan Sioe bersama dengan AYG dan beberapa lainnya mendirikan rumah sakit Jang Seng Ie yang pada mulanya merupakan klinik bersalin. Pada masa revolusi kemerdekaan, rumah sakit ini juga mempunyai palang merah Jang Seng Ie. Rumah sakit ini pada tahun 1960-an berganti nama menjadi Rumah Sakit Husada.
 
Selain itu, pada bulan September 1945 ia bersama dengan dr Kwa Tjoan Sioe menghadap Presiden Soekarno yang didampingi Wakil Presiden Hatta dan anggota kabinetnya di Pegangsaan Timur 1956. Bung Karno mengatakan bahwa Indonesia dan Tiongkok sama-sama berjuang menentang imperialisme dan menganut prinsip ius soli, atau kewarganegaraan ditentukan oleh tempat lahir.
 
Perang Dingin
Dalam pemberitaan mengenai Perang Korea (1950-1953) tampaknya Sin Po memihak Korea Utara yang memiliki persenjataan lebih lemah. Dalam suasana perang dingin pula hubungan Uni Soviet dan RRC menjadi retak. Di Tanah Air, pemerintahan yang dipimpin Sukiman (Masyumi) menjalin kerja sama pertahanan dengan AS.
 
Bulan Agustus 1951 terjadi penangkapan terhadap 2.000-an orang yang dianggap kiri. Pemicunya adalah serangan sekelompok orang berkaus palu arit ke pos polisi di Tanjung Priok. Ia dan Siau Giok Tjan termasuk yang ditahan beberapa minggu. Anehnya, tokoh PSI, Sutan Sjahrir, juga terkena razia. AYG diinterogasi tentang haluan koran Sin Po serta di mana dia ketika terjadi peristiwa Madiun tahun 1948. Razia Sukiman ini menarik untuk diteliti karena menurut John Roosa mengandung kemiripan dengan meletusnya peristiwa 1965. Jadi orang-orang PKI itu diprovokasi untuk bergerak lebih dulu lalu dihancurkan.
 
Tahun 1960-an AYG pensiun dari Sin Po. Tetapi, krisis keuangan yang membelit koran itu menyebabkan ia terpaksa ”turun gunung”. Ketika itu pula aparat menyegel koran tersebut. AYG menyodorkan nama Karim DP yang sudah belasan tahun menjadi wartawan koran tersebut sebagai pemimpin redaksi agar dapat diterima penguasa. Sin Po berganti nama menjadi Warta Bhakti dan menurut AYG memperlihatkan kenaikan oplah. Namun, kemudian meletus gerakan 30 September 1965 yang diawali dengan penculikan para jenderal dan pengumuman Dewan Revolusi yang mencantumkan antara lain nama Karim DP dan Siau Giok Tjan. Berakhirlah riwayat koran Sin Po.
 
Peristiwa G30S 1965 menyebabkan AYG kehilangan semuanya. Ia memutuskan menyusul putranya yang bekerja di Kanada. Di negeri inilah ia sempat menuliskan memoar berdasarkan ingatannya belaka. AYG adalah saksi dan korban perang dingin. Ia meninggal tahun 1984 dalam usia 90 tahun tanpa sempat menyaksikan robohnya Tembok Berlin tahun 1989.

Asvi Warman Adam, Peneliti LIPI
Kompas, 7 Maret 2010

Comments

Popular Posts