Mas Marco Kartodikromo: Dengan Sastra, Ia Mengasah Pena



Soepaja djalannja SAMA RATA,
Jang berdjalan poen SAMA me RASA,
Enak dan senang bersama-sama,
Ja’toe: "Sama rasa, sama rata."
 
(Sinar Djawa 10 April 1918)
 
Awal abad 20 tahun, gerbang dibukanya abad pencerahan. Jaman pergerakan, ditandai dengan hadirnya koran, munculnya puluhan jurnalis muda. Muncul  pula sebuah pola baru dalam gerakan, organisasi. Dunia penerbitan –yang rata-rata dimiliki oleh orang Tionghoa-- pun mencapai titik terang, ikut pula berperan mendorong proses kemajuan intelektual kaum bumi putra. Kaum jurnalis menjelma sekaligus sebagai aktivis-aktivis dan pimpinan pergerakan.
                Pada masanya, Marco dikenal sebagai salah seorang jurnalis tangguh. Ciri khas yang paling kentara ialah:  ia selalu  menulis apa yang dilihat dan dirasa secara lugas. Tanpa ditutupi-tutupi. Tidak juga serba dipoles-poles, hingga akhirnya melenyap esensinya. Doenia Bergerak adalah surat kabar yang dibesarkan dan membesarkannya. Marco menjadikannya sebagai alat untuk menyampaikan gagasan akan sebuah perjuangan yang modern, dengan motto: “Brani karena benar takut karena salah”. Pentingnya menjaga pergerakan agar tidak melenceng dari cita-citanya, adalah salah satu sandaran dari medianya. Marco berani menentang penguasa kolonial dan orang-orang pergerakan yang dianggap berkolusi dengan rejim kolonial dengan mengkritisi kondisi sosial politik yang ada. Alhasil, tak kurang empat kali ia keluar masuk penjara.Semuanya lantaran tulisan-tulisanya yang memerahkan kuping penguasa kolonial
Kali pertama ia dipenjara di Semarang, kemudian sempat diisolasi di Belanda, sempat pula dibuang ke Boven Digul. Bebas dari penjara ia bergabung dengan Semaun, dan menjadi komisaris Serikat Islam Semarang dan redaktur Sinar Hindia. Selain itu ia juga menyunting Sinar Hindia, Soero Satomo. Bintangnya mulai berpijar terang tatkala ia berada di SI. Semarang yang  menjadi pusat SI yang baru. Dalam kongres CSI ia terpilih menjadi komisaris CSI, khususnya menjadi kepala penerbitan.
Dikenal sebagai pribadi militan, Mas Marco Kartodikromo, lahir di Cepu, sekitar tahun 1890. Sebuah daerah tandus di Jawa Tengah, tepatnya di dekat pantai utara Pulau Jawa yang sarat bukit-bukit kapur dan dikelilingi hutan jati. Bumi gersang ini ternyata cukup menyimpan magma. Sebarisan nama yang mengharumkan dunia  pergerakan lahir di sini, Tirto Adhi Soeryo, pelopor pers nasional, juga Pramudya Ananta Toer. Dr. Tjipto Mangunkusumo pun pertama kali merintis sekolah khusus untuk bangsa pribumi, di daerah ini. Serta, dari sini pula tak bisa kita lupakan nama harum seorang perempuan pemberani, Kartini.   
Tak seperti kebanyakan tokoh yang dialiri darah priyayi, Marco sebuah perkecualian.Bapaknya hanya seorang priyayi rendahan, yang sehari-harinya juga mencari nafkah lewat bertani. Jika kaum pergerakan lain sempat menikmati pendidikan di sekolah-sekolah kelas satu, atau rata-rata menamatkan STOVIA, tokoh kita ini hanya sempat mengenyam sekolah bumi putra angka dua di Bojonegoro.
‘Kekalahan’ yang merupakan buah dari kelas sosialnya tersebut lah yang membuat Marco, seperti disebut Siraishi dalam Zaman Bergerak, “tergila-gila pada simbol–simbol modernitas dan tampil di depan umum dalam gaya Eropa seperti sinyo, sementara Cokro dan Soewardi lebih sering memakai  pakaian  Jawa“. Kekalahan, dan kekerasan hidup sebagai pribumi miskin ini pula yang justru mengasah kepekaan batin dan kepalanya.Jika kawan-kawannya mendapat pengetahuan dan kesadaran berdemokrasi dan buku-buku, Marko menjumputnya dari kehidupan sehari-hari. Ia jengah menyaksikan kemunduran bangsanya. Ia gusar dengan penghisapan yang saban hari melata di depan matanya. Itulah yang membedakan, dan membuatnya menonjol dibanding kawan-kawannya. Marco, bagian dari kaum muda yang diciptakan dalam sistem penghisapan kolonial, dan ia bersikeras mendobraknya. Baginya hierarki gelar, pangkat dan medali kehormatan, bukanlah lahir turun temurun, bukanlah hadir akibat aliran darah, melainkan diperoleh melalui sebuah kerja keras, dan keberanian bersikap tegas.
               
Menjadi Jurnalis, Menjadi Suluh Penerang
Pada awalnya, Marco bekerja sebagai juru tulis rendah di Dinas Kehutanan di tahun 1905. Tak lama, ia pindah ke Semarang dan tetap menjadi juru tulis di kantor pemerintah. Di sana ia punya kesempatan untuk belajar bahasa Belanda dari seorang Belanda yang menjadi guru privatnya.
Tahun 1911, terbuka satu babak baru dalam hidup Marco. Bahasa Belanda menghantarkannya pada cakrawala dunia yang serba baru;  pengetahuan yang serba baru. Tak cukup lagi sekedar menjadi seorang juru ketik, ia memilih meninggalkan Semarang dan berangkat ke Bandung. Ia sangat bercita-cita menjadi jurnalis terkemuka. Di Bandung ia bergabung dengan Medan Prijaji pimpinan Tirto Adhi Soeryo.Saat itu, memang Medan Prijaji tengah mencapai puncak kegemilangannya. Pada Tirto, Sang Pemula dalam segala makna itu lah, ia berguru. Tak hanya soal dunia tulis menulis, ia juga berguru soal kebajikan, dan –terutama—tentang organisasi modern.  
Medan Prijaji benar-benar mengasah talenta menulisnya. Oleh karenanya, bangkrutnya media pribumi dengan oplah terbesar tersebut, yang diikuti pula dengan dibuangnya Tirto ke Maluku, sempat membuat semangatnya runtuh. Terlebih, ketika akhirnya Sang Pemula wafat. Dalam korannya Marco melukiskan kehilangannya yang sangat dahsyat. Marco belum putus asa. Ia kembali ke Surakarta dan mengikuti jejak guru yang dikaguminya itu dengan menerbitkan suratkabar sendiri dalam bahasa Melayu. Nyaris semua yang diserapnya dari Tirto dipraktikkan di sini, termasuk, berorganisasi.
Pada usia 22, barulah benar-benar ia terjun ke dunia pergerakan. Ia sadar, hanya organisasi lah alat mencapai perubahan dan tatanan dunia baru. Sebuah pengetahuan dan kesadaran yang tidak terlambat untuk diraihnya. Surakarta, adalah tempatnya berkiprah dengan energi dan vitalitas sepenuh-penuhnya. Dalam rangka mencapai tujuan ini,  ia mendirikan Inlandshe Journalistenbond (IJB) di Surakarta pada pertengahan 1914 dengan Doenia Bergerak  sebagai surat kabarnya.
Kaum pergerakan menyambut dengan luapan gembira hadirnya terbitan ini. Berakhirlah masa kebekuan pers bumiputera akibat tekanan pemerintah kolonial. Dengan itu pula, Marco berani mendobrak tekanan pemerintah kolonial, tanpa sedikitpun gentar.
Tahun 1913, Serikat Islam (SI) mencapai puncak kejayaan.
Pada masa itu SI Surakarta adalah perkumpulan orang Jawa yang kuat pengaruhnya di bawah pimpinan pedagang batik dan aristokrat Kasunanan. Anggotanya mencapai puluhan ribu orang. Namun ketika jaman berganti, masa gemilang itu  pun berlalu. Ketika orang-orang sudah terbiasa dengan vergadering dan membaca surat kabar, eksistensi SI berkurang. Para priyayi beramai-ramai lari meninggalkan SI Surakarta di tengah keterpurukannya. Yang tersisa hanyalah para jurnalis yang kemudian beralih, memegang kendali menjadi pemimpin pergerakan. Dalam situasi tersebut, sosok seperti Marco yang berani, radikal, lugas menjadi sosok lebih didengarkan rakyat.
Doenia Bergerak menjadikan suara Marco makin keras dan lantang. Ia merasa perlu mengambil taktik demikian, sebab, ia bukanlah kalangan intelektual berdarah priyayi dan berpendidikan Belanda. Jika Tjokro hanya perlu membuka suara sedikit saja agar suaranya didengar oleh Belanda, maka Marco harus “berteriak” kencang-kencang agar suaranya lebih lantang dan didengar.
Paruh 1915, Doenia Bergerak memasuki masa gemilang.Pemerintah kolonial mulai represif, makin semena-mena terhadap kaum bumiputra, terlebih terhadap para kaum aktivisnya. Dalam surat kabarnya itulah, Marco lantang berseru-seru: “Kita semua adalah manusia”. Hasilnya bisa diduga, Marco diseret ke pengadilan. Jatuhlah vonis 7 bulan penjara. Mau apalagi, Marco tak pernah menyesalinya. Pengadilan adalah panggung politik bagi siapapun yang berkesedaran maju!
Di depan pengadilan pula, ia terus saja berseru-seru:
 Saya berani bilang, selama kalian, rakyat Hindia, tidak punya keberanian, kalian akan terus diinjak-injak dan hanya menjadi seperempat manusia !!!”  
4 kali keluar masuk penjara, ia lewati dengan kepala tegak. Kesulitan demi kesulitan datang silih berganti. Selalu mampu ia taklukkan. Selalu mampu tergantikan oleh pengalaman dan pengetahuan baru.Ia menyebutnya sebagai batu ujian; sebagai sekolahan baru; sebagai tempat untuk melatih agar moral bertambah kukuh dan liat.Itu sebabnya Soewardi Soerjaningrat menyebutnya sebagai seorang satria sejati. Secara khusus dipahatnya kekaguman itu dalam sebuah tulisan di Sarotomo:
 
   Memang membela bangsa itu tidak mudah dan tidak menyenangkan, namun ini kewajiban kita.Ingatkah, yang berbahagia bukanlah mereka yang menyandang gelar dan pangkat, bagi saya, kebahagiaan yang paling besar berada dalam pikiran saya. Saudara telah mengorbankan diri dan semua hukuman sesungguhnya merupakan sebuah bintang kehirmatan bagi saudara dan itulah lambang kebahagiaan saudara. Sekarang, di mata saya pangkat saudara sangat tinggi, karena sudah jelas, kebahagiaan saudara terletak dalam upaya membela bangsa. Janganlah mengira bahwa tak ada orang lain yang akan meneruskan pekerjaan saudara. Puluhan orang nanti akan menggantikan saudara. Berani karena benar !(Akira Nagazumi, 1986)
 
Iklim politik di Hindia bergolak. Jauh melebihi dari yang pernah dibayangkan Marco. Perang Dunia I nyaris selesai. Revolusi Rusia meledak, tatanan dunia yang baru pun muncul. Sementara itu, kehidupan rakyat terus merosot; harga-harga meroket tinggi; upah terus digencet di bawah telapak kaki. Keresahan pun merunyak di mana-mana. Eropa meledak dengan Revolusi Rusia pada Maret 1917, diikuti dengan Revolusi Bolshevik.
Serikat-serikat buruh muncul bak jamur di musim hujan. Seperti terilhami oleh revolusi Bolshevik, pemogokan-pemogokan pabrik meledak hampir saban hari di pulau Jawa. Sebuah transformasi pergerakan tengah berlangsung, jika pada awalnya Serikat Islam ditandai dengan vergadering, kemudian beralih ke pemogokan. Perang Dunia I, menjadi batas waktu yang sangat penting bukan hanya bagi pergerakan tetapi bagi sejarah Hindia. Perang ini telah mempengaruhi posisi Hindia dengan negara induk. Cengkeraman terhadap negara jajahan tak lagi kencang. Radikalitas kaum buruh membuat pemerintah mengawasi perkembangan kelompok kiri ini.Pertemuan-pertemuan dilarang, organisasi-organisasi diinteli, pers dan penerbitan pun tak lepas dari teror dan sensor kolonial. Belasan orang di seret ke penjara dan dihukum mati di depan umum, sementara sekitar 13.000 orang dibuang ke Boven Digoel.
Regenerasi gerakan pun terjadilah. Semaun, seorang pemuda belia berumur 18 tahun, berasal dari kelas buruh, maju ke depan dan memimpin pemogokan di Jawa. Dia adalah aktivis ISDV dan kemudian menjadi pemimpin SI Semarang.

 

Ia juga seorang sastrawan

                Jamaknya aktivis pergerakan adalah berjiwa seni yang tinggi, nyaris tak ada yang menyangkal. Marx seorang sastrawan sejati, demikian juga Marco. Selain tulisan-tulisannya yang bergaris politik dan agitatif, ia sangat mencintai sastra. Ia senang menulis syair dan cerita roman. Bahkan bersama-sama dengan H. Mukhti dan Tirto Adhi Soeryo, Marco dianggap sebagai pelopor sastra modern Indonesia. Dari buah tangan merekalah disemai sastra modern di negeri kita.
Semua dan segala yang ditulisnya adalah potret dari seluruh realitas bangsanya. Hampir seperti Tirto yang meneguhkan dirinya sebagai wartawan-pengarang yang menjadikan tulisan sebagai senjata perang terhadap segala bentuk kesewenangan. Lewat tulisan serta sketsa-sketsa fiksinya ia mampu melukiskan dengan serba rinci tentang struktur sosial dan kebudayaan kolonial pada masa itu, seperti yang ditulisnya dalam Student Hidjo, buah karya terkenalnya yang membedah proses nasionalisme yang baru tumbuh di Hindia Belanda.
Syair-syairnya yang terkenal adalah Sama Rata Sama Rasa dan Badjak Laoet, keduanya menyuarakan kebenciannya pada kolonial, pada imperialis, yang ia gambarkan “menghisap mereka sampai pingsan”.
Lewat sastra ia mengasah pena, sebagaimana lewat sastra pula ia belajar tentang kesanggupan dan ketidaksanggupan manusia dalam berhadapan dengan sejarahnya, sejarah kolonialisme yang liat untuk diruntuhkan.
Marco juga sangat menyukai pewayangan. Salah satu tokoh idolanya adalah Bima, ksatria sejati, yang gagah berani membela kebenaran. Bahkan, Takashi menyebut bahwa kunci untuk memahami Marco adalah pergerakan dan pengorbanan. Setelah ia keluar masuk penjara tanpa sedikit jera dan menyesal. Semua itu adalah buah dari sikap satrianya, yang berani menyuarakan apa yang dirasa benar dan bertindak sesuai dengan kata-katanya. Marco mengatakan bahwa makna “hidup” hanya bisa dipahami jika orang mengorbankan dirinya bagi “kita”.Ia tampil sebagai “cermin” dan sebagai suatu pengorbanan bagi pergerakan rakyat.
Marco, anak muda ciptaan kolonial itu, tintanya tak pernah mengering. Karyanya, hidupnya, terus saja mengalir.
Tak ada data tentang bagaimana kehidupan pribadinya. Ia tak terlalu suka menulis biografi, atau menukilkan kisah hidupnya dalam cerita-cerita fiksinya.Namun,dari perjalanan hidupnya, dari  gaya ia menulis, agaknya faktor ‘kekalahan’ sebagai pribumi rendahan seperti disebut di atas, cukup berperan kuat, ia sangat dendam dengan kepriyayian. Ia dendam dengan feodalisme.
Tahun 1917, terbit syairnya yang berjudul Sama Rata Sama Rasa, yang menggambarkan tekat Marco untuk kembali ke dunia pergerakan, yang sempat lama di tinggalkannya. Pergerakan yang lahir dengan ekspansi Serikat Islam yang luar biasa, sekarang memasuki tahap baru. Masa kolonial telah berakhir dan berganti dengan masa munculnya kaum bumiputra. Setelah keluar dari penjara, Marco bergabung dengan SI Semarang dan duduk sebagai komisaris. Ia tak kembali ke Surakarta sampai akhir 1924. Di masa selanjutnya, pergerakan ternyata tumbuh kembali di Surakarta, kali ini bukan di bawah panji-panji SI tetapi di bawah Insulinde yang dipimpin oleh H Misbach dan Tjipto.
                 Pada masa awal pembentukan SI Surakarta, Marco memegang peranan yang cukup penting.Ia bukanlah orang Surakarta, namun di kota inilah ia memulai karier pergerakannya.Di kota inilah yang turut menyalakan obor penerang, yang semula dipegang oleh Tirto dan H. Misbach.
Pada tahun 1924, setelah H. Misbach, seorang orator dan organisator ulung, tokoh yang memproklamirkan Islam Komunis, dibuang ke Manokwari, Papua dan akhirnya meninggal setelah diterjang penyakit malaria, Marco lah yang memegang kendali organisasi. Dia memimpin SR dan PKI di Surakarta pada tahun 1925, sekaligus tanpa daya menjadi saksi atas kehancurannya. Runtuhnya organisasi PKI yang diawali dengan pemberontakan yang gagal  di tahun 1926.  
Gelombang radikalisme yang melanda rakyat-lah yang membuat pergerakan murni menjadi milik rakyat sekaligus menguji para pemimpinnya. Ketika  kekuatan kiri ditumpas habis-habisan pada tahun 1926, sebuah generasi baru intelektual yang kesadaran nasionalisnya sudah terbentuk mulai awal 20-an muncul dan menjadi kekuatan baru. Marco, satria sejati, yang tak pernah berlari ketika datang kesulitan -- ia selalu menyambutnya dengan kepala tegak-- adalah salah satu peletak dasarnya! (lhs) ****

sumber : indomarxist

Sumber                      : Tabloid Pembebasan Edisi IV/Tahun I
Kontributor              : Dewan Redaksi Tabloid Pembebasan,  Januari 2004
Versi Online            : Indomarxist.Net,  3 Februari 2004

Comments

Popular Posts